Rapat-rapat di DPR seharusnya menjadi forum yang dihormati untuk membahas kebijakan publik. Namun, yang sering kita saksikan justru sebaliknya. Suasana di ruang sidang lebih mirip dengan ring tinju, di mana para anggota dewan saling serang dengan kata-kata kasar dan emosi yang meledak-ledak. Pertunjukan ini merusak citra DPR.
Fenomena ini adalah cerminan dari budaya politik yang mengedepankan kekuasaan daripada pelayanan. Mereka lebih sibuk dengan politik daripada mencari solusi untuk masalah rakyat. Pertengkaran ini menjadi ajang unjuk kekuatan, bukan ajang adu argumen yang cerdas.
Publik pun menjadi korban. Kita disuguhkan drama yang memalukan, sementara isu-isu penting seperti kemiskinan dan pendidikan terabaikan. Keributan di ring tinju ini menunjukkan bahwa prioritas mereka jauh dari apa yang dibutuhkan oleh bangsa.
Sangat disayangkan, ketika ada banyak masalah yang harus diselesaikan, energi mereka habis untuk hal-hal yang tidak produktif. Mereka seolah lupa bahwa tugas mereka adalah melayani rakyat, bukan untuk saling menjatuhkan. Ring tinju ini adalah pemborosan waktu yang mahal.
Perilaku ini juga merusak kepercayaan publik. Masyarakat merasa suara mereka tidak lagi didengar. Mereka hanya melihat tontonan kosong yang tidak memberikan solusi apa pun. Kehadiran mereka di ring tinju ini membuat rakyat kecewa.
Penting bagi kita untuk menuntut perubahan. Para wakil rakyat harus menyadari bahwa jabatan mereka adalah amanah. Perilaku yang tidak profesional seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ring tinju ini harus dihentikan demi kebaikan kita semua.
Para anggota dewan harus kembali ke etika dan norma yang seharusnya mereka junjung tinggi. Mereka harus berdialog dengan kepala dingin, menghormati perbedaan pendapat, dan fokus pada tujuan utama mereka. Kita berharap ring tinju di DPR tidak akan terulang lagi.
Sudah saatnya Gedung DPR kembali menjadi tempat yang bermartabat. Tempat di mana kepentingan rakyat menjadi satu-satunya agenda. Kita berhak mendapatkan perwakilan yang lebih baik, yang bekerja, bukan berduel.
