Yogyakarta, sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa, menyimpan banyak kisah tentang masa keemasan Kesultanan Mataram Islam, dan tak ada tokoh yang meninggalkan warisan sekuat Sultan Agung Hanyokrokusumo. Melacak jejak Sultan Agung di wilayah ini adalah perjalanan menelusuri sejarah, strategi politik, dan perkembangan budaya Jawa yang membentuk identitas Keraton Yogyakarta hingga hari ini. Meskipun Sultan Agung berkedudukan di Karta (Pleret) yang kini masuk wilayah Bantul, pengaruh dan warisannya menyebar luas, menciptakan fondasi bagi sistem kerajaan yang kini kita kenal sebagai Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Memahami jejak Sultan Agung berarti memahami asal-usul kedaulatan dan kearifan lokal yang masih dijaga.
Pusat Spiritual dan Kalender Jawa
Salah satu jejak Sultan Agung yang paling abadi adalah reformasi kalender yang ia lakukan. Pada tahun 1633 Masehi (1555 Saka), Sultan Agung menggabungkan sistem penanggalan Saka (Hindu) yang berbasis Matahari dengan penanggalan Hijriah (Islam) yang berbasis Bulan, melahirkan kalender Jawa Islam atau kalender Jawa Mataram. Kalender ini masih digunakan secara resmi oleh Keraton Yogyakarta dan Surakarta untuk menentukan hari-hari besar dan upacara adat. Penetapan kalender ini merupakan simbolisasi penting dari upaya Sultan Agung untuk menyatukan elemen-elemen kebudayaan Hindu-Buddha dengan nilai-nilai Islam, menunjukkan keahliannya sebagai pemimpin spiritual sekaligus politik.
Situs Bersejarah yang Berkaitan
Meskipun Keraton Yogyakarta yang sekarang didirikan oleh Sultan Hamengkubuwono I, wilayah-wilayah di sekitarnya menyimpan situs-situs yang secara historis terhubung dengan masa Mataram Islam di bawah Sultan Agung. Salah satu situs yang paling relevan adalah bekas Keraton Pleret, yang berlokasi di wilayah Bantul. Keraton ini merupakan pusat pemerintahan Sultan Agung setelah ia memindahkan ibu kota dari Kotagede (yang juga dibangun oleh leluhurnya, Panembahan Senapati). Keraton Pleret menjadi saksi bisu puncak kejayaan Mataram Islam dan ambisi Sultan Agung untuk menyatukan seluruh Jawa, termasuk dua kali penyerangannya yang terkenal terhadap VOC di Batavia (terjadi pada tahun 1628 dan 1629 Masehi).
Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, pada hari Rabu, 17 Desember 2025, dalam sebuah kegiatan inventarisasi, mencatat bahwa sisa-sisa Keraton Pleret, meskipun kini berupa reruntuhan dan hanya menyisakan fondasi batu, menjadi titik penting untuk memahami struktur tata kota kerajaan Mataram pada masa itu.
Warisan Budaya di Keraton Yogyakarta
Warisan jejak Sultan Agung tidak hanya berupa lokasi fisik, tetapi juga aspek budaya yang terinternalisasi dalam tradisi Keraton. Misalnya, pengembangan Gamelan Sekaten dan perayaan Garebeg yang sangat lekat dengan syiar Islam Jawa, banyak dipengaruhi oleh kebijakan budaya Sultan Agung. Ia memanfaatkan kesenian dan tradisi sebagai media untuk menyampaikan ajaran agama dan memperkuat legitimasi kekuasaan.
Pendek kata, jejak Sultan Agung di Yogyakarta dan sekitarnya adalah jejak seorang pemimpin visioner yang tidak hanya berperang melawan penjajah, tetapi juga membangun peradaban dan budaya yang kokoh. Mulai dari penanggalan, arsitektur keraton awal di Pleret, hingga ritual-ritual keraton, warisannya terus membentuk DNA budaya Jawa hingga generasi saat ini.
